home icon
search icon
menu icon

> Berita > FISIP USU Perkuat Diplomasi Budaya melalui Kehadiran ICCR Chair Assoc. Prof. Dr. Gauri Kopardekar dari Savitribai Phule Pune University Pune, Maharashtra, India

FISIP USU Perkuat Diplomasi Budaya melalui Kehadiran ICCR Chair Assoc. Prof. Dr. Gauri Kopardekar dari Savitribai Phule Pune University Pune, Maharashtra, India

Dipublikasi Pada

16 Desember 2025

Dipublikasi Oleh

Arie Putra Afrianda

FISIP USU Perkuat Diplomasi Budaya melalui Kehadiran ICCR Chair Assoc. Prof. Dr. Gauri Kopardekar dari Savitribai Phule Pune University Pune, Maharashtra, India
Thumbnail FISIP USU Perkuat Diplomasi Budaya melalui Kehadiran ICCR Chair Assoc. Prof. Dr. Gauri Kopardekar dari Savitribai Phule Pune University Pune, Maharashtra, India

Kehadiran Dr. Gauri Kopardekar, ICCR Chair Professor, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara menunjukkan bagaimana aktivitas akademik dapat berfungsi sebagai praktik diplomasi budaya yang efektif. Melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan akademik dan kultural, FISIP USU tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga arena pertukaran makna, nilai, dan perspektif lintas budaya, yang memperkuat peran kampus dalam diplomasi non-negara berbasis pendidikan dan kebudayaan.

 

Dalam konteks Ilmu Komunikasi, khususnya kajian film, kegiatan yang difasilitasi Dr. Gauri menempatkan media audiovisual sebagai sarana komunikasi lintas budaya. Film dipahami sebagai teks sosial yang merepresentasikan budaya, relasi sosial, serta nilai-nilai universal, sehingga dapat dianalisis secara kritis. Pendekatan ini selaras dengan tradisi kajian film dalam Ilmu Komunikasi yang melihat film bukan semata sebagai hiburan, melainkan sebagai medium pembentuk persepsi, identitas, dan pemahaman sosial.

 

Melalui program seperti Indian Movie Club, mahasiswa diajak membaca film dalam kerangka komunikasi budaya, memahami konteks sosial yang melatarbelakanginya, serta membandingkannya dengan realitas sosial di Indonesia. Diskusi yang menyertai pemutaran film membuka ruang dialog antar budaya yang setara sekaligus mendorong pengembangan literasi media dan sensitivitas lintas budaya. Dalam praktik ini, diplomasi budaya berlangsung secara halus melalui kekuatan narasi dan visual, tanpa pendekatan yang bersifat instruktif atau satu arah.

 

Dalam kerangka Ilmu Komunikasi, pendekatan tersebut mempertegas posisi film sebagai medium komunikasi budaya yang mampu membuka ruang dialog lintas perspektif. Praktik ini dinilai relevan dengan pengembangan kajian film dan literasi media di lingkungan FISIP USU, sebagaimana disampaikan oleh Farida Hanim, S.Sos., M.I.Kom selaku dosen Ilmu Komunikasi.

 

Dalam kajian Ilmu Komunikasi, film memiliki posisi strategis sebagai medium komunikasi budaya yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara pandang audiens terhadap realitas sosial.  Oleh karena itu, pendekatan analitis terhadap film menjadi penting untuk membuka ruang dialog lintas perspektif, sekaligus melatih sensitivitas kritis terhadap representasi nilai, identitas, dan relasi kuasa. Dalam hal ini, kita bicara dalam konteks film India yang pada masanya sempat merajai siaran televisi di Indonesia”

Sebagai ICCR Chair Professor, Dr. Gauri Kopardekar membawa mandat kebudayaan yang terintegrasi dengan fungsi akademik. Namun, yang menonjol adalah pendekatan dialogis yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif dalam proses komunikasi budaya. Kampus tidak sekadar menjadi lokasi representasi budaya asing, melainkan ruang pertemuan gagasan dan pertukaran makna yang dinamis.

 

Keterlibatan tersebut berkontribusi pada penguatan internasionalisasi FISIP USU dengan menghadirkan pengalaman pembelajaran yang kontekstual dan berwawasan global. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang budaya lain, tetapi juga diajak merefleksikan budaya sendiri melalui perspektif komunikasi dan media. Dengan demikian, rangkaian aktivitas akademik dan kultural ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya di lingkungan kampus dapat berjalan secara substantif, relevan, dan berkelanjutan.

 

Penulis: Tabitha R. Simbolon

Berita