home icon
search icon
menu icon

> Berita > FISIP USU Gelar Summer Course Internasional, Diikuti Peserta dari Asia, Afrika, hingga Timur Tengah

FISIP USU Gelar Summer Course Internasional, Diikuti Peserta dari Asia, Afrika, hingga Timur Tengah

Dipublikasi Pada

16 Desember 2025

Dipublikasi Oleh

Arie Putra Afrianda

FISIP USU Gelar Summer Course Internasional, Diikuti Peserta dari Asia, Afrika, hingga Timur Tengah
Thumbnail FISIP USU Gelar Summer Course Internasional, Diikuti Peserta dari Asia, Afrika, hingga Timur Tengah

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan Summer Course 2025 bertema “The Empowerment Practices for Disadvantaged People” pada 8–15 Desember 2025. Program internasional ini diikuti oleh 50 peserta yang berasal dari lebih dari 10 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, sebagai bagian dari upaya penguatan internasionalisasi akademik USU.

 

Summer Course ini diselenggarakan oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial FISIP USU dan dilaksanakan secara hybrid, mengombinasikan pembelajaran daring dan luring. Peserta berasal dari berbagai latar belakang universitas dan kebangsaan, di antaranya Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Nigeria, Tanzania, Kenya, Gambia, Guinea, Sudan, Madagaskar, Myanmar, Tajikistan, serta mahasiswa internasional yang sedang menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

 

Ketua Pelaksana Summer Course 2025, Dr. Husni Thamrin, S.Sos., MSP, mengatakan bahwa keberagaman negara asal peserta menjadi kekuatan utama program ini.

 

“Kehadiran peserta dari berbagai negara menghadirkan suasana akademik yang multikultural. Diskusi yang terbangun menjadi lebih kaya karena peserta membawa perspektif sosial, budaya, dan kebijakan dari negara masing-masing,” ujar Husni.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi akademik yang menghadirkan tiga narasumber internasional, yakni Prof. Engr. Zamir Ahmed Awan dari Global Silk Route Research Alliance, Pakistan, serta dua akademisi dari Universiti Sains Malaysia. Materi yang disampaikan mencakup transformasi geopolitik global, isu gelandangan dan kesejahteraan sosial, hingga kebijakan harm reduction dalam penanganan tunawisma dan penyalahgunaan narkoba.

 

Selain perkuliahan, peserta mengikuti field trip selama tiga hari pada 12–14 Desember 2025 dengan rute Medan–Asahan–Parapat–Samosir. Dalam kegiatan lapangan ini, peserta melakukan observasi sosial, mini riset, dan interaksi langsung dengan masyarakat lokal untuk memahami praktik pemberdayaan masyarakat secara empiris, khususnya dalam konteks pembangunan desa dan pariwisata berbasis komunitas di kawasan Danau Toba.

 

Dekan FISIP USU menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dari strategi fakultas dalam membangun jejaring global.

 

“Summer Course ini mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara dalam satu ruang akademik. Ini merupakan langkah konkret FISIP USU untuk memperkuat reputasi internasional sekaligus kontribusi keilmuan pada isu-isu kemanusiaan,” ujarnya.

 

Sebagai luaran kegiatan, Summer Course 2025 berhasil menghadirkan lingkungan belajar internasional, memperkuat jejaring antar mahasiswa dan dosen lintas negara, serta menghasilkan dokumentasi kegiatan berupa foto dan video untuk publikasi nasional dan internasional. Peserta juga didorong menyusun artikel ilmiah berbasis hasil pembelajaran dan observasi lapangan.

 

Melalui kegiatan ini, FISIP USU menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif merespons isu global dan berkomitmen pada pengembangan praktik pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.

Berita