Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kegiatan bertajuk "Pembentukan dan Pelatihan Tim Komunikasi Kesiapsiagaan Kebencanaan" di Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Darun Najah, Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Jumat (31/7/2026). Program berbasis kepakaran ilmu sosial dan komunikasi ini dihadirkan sebagai bentuk kepedulian akademisi FISIP USU terhadap kerentanan kawasan pesisir Tapanuli Tengah dari potensi bencana alam. Kelurahan Lopian sendiri memiliki rekam jejak kerentanan terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang berisiko mengganggu aktivitas harian warga serta merusak jalur distribusi kebutuhan pokok masyarakat.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A. selaku Ketua Tim Pengabdian, dengan beranggotakan tim dosen FISIP USU yaitu Farida Hanim, S.Sos., M.I.Kom., Ivan Indrawan, S.T., M.T., dan Muhammad Ikhwanul Ihsan, S.Sos., M.A., serta dibantu oleh delapan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU. Kehadiran tim akademisi ini bertujuan untuk memberikan edukasi langsung mengenai pentingnya tata kelola informasi saat krisis. Dalam keterangannya, aspek komunikasi dinilai sebagai elemen vital dalam pengurangan risiko bencana yang selama ini masih minim perhatian dan kerap dianggap tidak penting. Padahal, pengelolaan kebencanaan sangat bergantung pada efektivitas informasi dan koordinasi di semua tahapan, mulai dari pra-bencana atau mitigasi, tanggap darurat (preparedness), hingga pasca-bencana untuk proses rekonstruksi dan rehabilitasi.

Ketua Tim Pengabdian FISIP USU, Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A., menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap krisis. "Bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga persoalan bagaimana masyarakat menerima, memahami, dan menyampaikan informasi. Karena itu, isu kebencanaan menjadi salah satu isu yang sangat penting untuk terus diedukasikan kepada masyarakat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam situasi darurat, informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipercaya mampu mengurangi kepanikan serta membantu masyarakat mengambil keputusan yang benar, meskipun saat ini masih banyak wilayah yang belum memiliki sistem komunikasi kebencanaan yang terstruktur.

Guna menjawab tantangan tersebut, FISIP USU menerapkan pendekatan keilmuan komunikasi yang komprehensif, meliputi komunikasi intrapersonal, interpersonal, kelompok, organisasi, publik, massa, hingga komunikasi lintas budaya. Pendekatan ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat serta korban bencana mengenai berbagai jenis bencana dan cara penanggulangannya. Secara khusus, program ini merangkul generasi muda dan pelajar di MAS Darun Najah karena mereka memiliki posisi strategis dan dekat dengan perkembangan teknologi media digital. Pemuda diharapkan dapat menjadi penghubung antara informasi resmi dengan masyarakat luas, sekaligus menjadi agen perubahan yang memproduksi, menyebarluaskan, dan meluruskan informasi agar tidak terjadi penyebaran hoaks maupun kepanikan.

Melalui serangkaian kegiatan pelatihan, diskusi, permainan interaktif tatap muka, simulasi kebencanaan, hingga pembuatan konten edukasi digital, FISIP USU secara resmi membentuk Tim Komunikasi Kesiapsiagaan Kebencanaan di Kelurahan Lopian. Pembentukan tim relawan muda ini diharapkan dapat melahirkan sumber informasi terpercaya di tingkat lokal, meningkatkan literasi kebencanaan warga, serta memperkuat sistem komunikasi risiko berbasis komunitas. Langkah nyata ini menjadi wujud komitmen FISIP USU dalam menghadirkan kontribusi akademis berbasis riset untuk mengedukasi masyarakat agar lebih siap mengantisipasi kejadian bencana, sehingga mampu mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian harta benda di masa depan.