home icon
search icon
menu icon

> Berita > Resiliensi Perempuan di Negeri Rantau: Upaya Nyata USU dalam PKM Internasional di Hong Kong

Resiliensi Perempuan di Negeri Rantau: Upaya Nyata USU dalam PKM Internasional di Hong Kong

Dipublikasi Pada

25 Juni 2025

Dipublikasi Oleh

Arie Putra Afrianda

Resiliensi Perempuan di Negeri Rantau: Upaya Nyata USU dalam PKM Internasional di Hong Kong
Thumbnail Resiliensi Perempuan di Negeri Rantau: Upaya Nyata USU dalam PKM Internasional di Hong Kong

Universitas Sumatera Utara (USU) terus menunjukkan dedikasinya terhadap isu-isu global melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang berskala internasional. Salah satu fokus terbarunya adalah memperjuangkan kesejahteraan Pekerja Migran Perempuan Indonesia (PMPI) di Hong Kong. Tim Pengabdian Universitas Sumatera Utara melaksanakan program yang berjudul “PMPI Tangguh: Membangun Resiliensi dan Kesejahteraan PMPI melalui Penguatan Kapasitas Psikologi, Gender, dan Sosial” di Hongkong pada pada 15-17 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan kolaborasi USU dengan mitra internasional yaitu Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong (ATKI-HK), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman.

 

Tim pelaksana dari Universitas Sumatera Utara (USU) terdiri atas Dr. Harmona Daulay (ahli sosiologi gender), Dr. Meutia Nauly (psikologi), Dr. Detania Sukarja (hukum ekonomi), dan Fredick Broven Ekayanta (ilmu politik). Sementara itu, dari Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) turut bergabung Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si. Kolaborasi lintas disiplin ini menghadirkan perspektif yang kaya dan komprehensif dalam memahami dinamika serta tantangan yang dihadapi para pekerja migran perempuan. Dengan menggabungkan pendekatan sosiologis, psikologis, hukum, dan politik, tim ini mampu merumuskan solusi yang lebih holistik dan berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan.

Program ini berakar dari kenyataan bahwa banyak pekerja migran perempuan Indonesia di Hong Kong menghadapi tantangan signifikan, seperti tekanan kerja yang intens, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental, diskriminasi, dan kurangnya pemahaman hukum. Selama pandemi COVID-19, situasi ini semakin memburuk karena mereka semakin terasing dan dibebani dengan tanggung jawab kerja yang meningkat. “Banyak diantara mereka yang tidak mendapat fasilitas penunjang kerja yang layak, mereka tidak mendapat kamar khusus. Kadang mereka di (tidur) di dapur. Kasus lain yang dihadapi, misalnya hamil diluar nikah, dan pelecehan dari majikan”, ujar Harmona Daulay.

 

Dengan pendekatan yang edukatif dan partisipatif, kegiatan pengabdian masyarakat ini berupaya mendukung PMPI untuk lebih tangguh secara mental dan sosial. Mereka juga diajak untuk memahami hak-hak mereka sebagai pekerja migran, membangun kesadaran gender, serta memperkuat solidaritas komunitas di antara sesama pekerja migran. “Harapannya agar para perempuan pekerja migran bisa memiliki kesadaran gender, bisa memahami remiten sosial, dan mereka akan tahu bahwa ketika ada masalah harus lari ke hukum”. 

Kegiatan ini berhasil menciptakan ruang belajar yang aman dan memberdayakan, sekaligus memperkuat jaringan sosial antar peserta. Ke depan, hasil kegiatan ini akan dikembangkan dalam bentuk media pembelajaran, video dokumentasi, dan publikasi ilmiah untuk memperluas dampak yang dihasilkan. Program ini juga menjadi bagian dari langkah internasionalisasi Universitas Sumatera Utara dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam hal kesetaraan gender, perlindungan pekerja migran, dan peningkatan kesejahteraan sosial.

 

Melalui kegiatan ini, USU tidak hanya muncul sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai mitra yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial dalam membangun keadilan dan pemberdayaan bagi kelompok rentan di tingkat internasional. Bagi PMPI, kehadiran tim dari Indonesia ini bukan sekadar kegiatan, melainkan bentuk nyata dari dukungan dan pengakuan terhadap perjuangan mereka.

 

Penulis: Tabitha R. Simbolon

Berita