> Berita > Mengajar di Vietnam, Mahasiswi Ilmu Politik FISIP USU Ikuti Global Volunteer AIESEC
Mengajar di Vietnam, Mahasiswi Ilmu Politik FISIP USU Ikuti Global Volunteer AIESEC
Dipublikasi Pada
09 Februari 2026
Dipublikasi Oleh
Arie Putra Afrianda
Thumbnail Mengajar di Vietnam, Mahasiswi Ilmu Politik FISIP USU Ikuti Global Volunteer AIESEC
Chairunnisa, mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) mengikuti program MBKM Global Volunteer bersama AIESEC in USU di Vietnam. Program tersebut berlangsung selama 50 hari, mulai 21 Desember 2025 hingga 8 Februari 2026, dan dilaksanakan di Hai Phong City. Dalam program ini, ia terlibat dalam kegiatan pengabdian pendidikan melalui proyek bertajuk Happy Bus Project, yang berfokus pada pengajaran bagi siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari preschool hingga sekolah menengah atas.
Ketertarikannya mengikuti program ini berawal dari rasa ingin tahunya terhadap perkembangan sistem pendidikan di Vietnam. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana sistem pendidikan tersebut berkembang sekaligus belajar dari praktik yang diterapkan di sana. “Sejak semester dua saya sudah aktif menjadi volunteer mengajar anak-anak kurang mampu di Medan. Dari situ saya menyadari bahwa pendidikan memiliki peran besar dalam mengubah masa depan seseorang,” ungkapnya.
Selama mengikuti Happy Bus Project, ia berperan sebagai pengajar bahasa Inggris sekaligus fasilitator pembelajaran bagi para siswa. Dalam proses belajar, ia menggunakan pendekatan STEM yang mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika untuk melatih cara berpikir kritis siswa. Metode tersebut disesuaikan dengan usia peserta didik agar pembelajaran tetap efektif dan menyenangkan.
Untuk siswa preschool, kegiatan belajar dilakukan melalui berbagai aktivitas interaktif seperti bermain, bernyanyi, dan membaca cerita berbahasa Inggris. Ia juga mengajak siswa membuat makanan tradisional sederhana sambil mempraktikkan instruksi bahasa Inggris seperti “mix”, “stir”, dan “pour”. “Anak-anak belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga dari pengalaman langsung,” jelasnya. Sementara itu, bagi siswa yang lebih besar hingga tingkat SMA, pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang lebih terarah. Ia melatih kemampuan menulis melalui berbagai topik sederhana hingga esai serta membiasakan siswa berdiskusi dalam bahasa Inggris. Metode seperti role play dan latihan mendengarkan juga digunakan agar siswa lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Selama berada di Hai Phong City, ia mengaku terkesan dengan semangat belajar para siswa serta rasa hormat mereka terhadap guru. Meskipun terdapat keterbatasan bahasa, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. “Meskipun ada keterbatasan bahasa di antara kami, semangat mereka justru menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Selain mengajar, ia juga aktif dalam kegiatan pertukaran budaya dengan memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat. Dalam salah satu kegiatan, ia menampilkan tarian Tor-Tor sambil mengenakan kebaya dan ulos. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta yang bahkan ikut menari bersama. Ia juga memperkenalkan makna ulos serta membagikan makanan tradisional seperti nastar kepada masyarakat setempat.
Selama mengikuti program ini, ia juga berkesempatan berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hanoi dan berdiskusi dengan Made Santi Ratnasari yang menjabat sebagai Minister Counsellor. Pertemuan tersebut membahas berbagai isu terkait pendidikan serta perkembangan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir. Ia juga mendapatkan perspektif baru mengenai hubungan antara pendidikan, ekonomi, dan pembangunan negara. Pengalaman tersebut turut memberikan pandangan baru baginya sebagai mahasiswa Ilmu Politik. Ia mengaku sebelumnya hanya mempelajari teori mengenai negara komunis melalui perkuliahan di kelas. Namun setelah melihat langsung kehidupan masyarakat di Vietnam, ia menemukan bahwa masyarakat memiliki rasa bangga yang tinggi terhadap negaranya. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa hubungan internasional juga dapat terjalin melalui interaksi sehari-hari antarindividu dari berbagai latar belakang budaya.
Ia menilai program Global Volunteer memberikan manfaat besar tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam pengembangan diri. Program ini mendorongnya untuk lebih mandiri, adaptif, serta terbuka terhadap berbagai perspektif baru. “Program ini benar-benar mendorong saya keluar dari zona nyaman dan belajar beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda,” katanya.
Melalui pengalaman ini, ia berharap semakin banyak mahasiswa FISIP USU yang berani memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti program internasional. Menurutnya, setiap kesempatan yang datang dapat menjadi pengalaman berharga bagi perkembangan diri mahasiswa. “Jangan terlalu pilih-pilih kesempatan. Ambil semua peluang yang datang selama itu positif,” pesannya.