Mahasiswa FISIP USU Ikuti Student Mobility Programme di Malaysia
BeritaPers Mahasiswa Pijar USU Gelar PJTD 2026, Dorong Kompetensi Jurnalistik di Era Digital
BeritaPenjajakan kerjasama pelatihan bagi mahasiswa dan alumni dengan sertifikat BNSP
18 November 2025
Arie Putra Afrianda
Program Studi Antropologi Sosial di FISIP Universitas Sumatera Utara mengadakan kegiatan Visiting Professor pada tanggal 18 November 2025, menghadirkan Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., Guru Besar Antropologi Kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat jejaring akademik, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperdalam wawasan mahasiswa Antropologi terkait hubungan antara kesehatan dan budaya.
Dalam rangkaian program tersebut, Prof. Atik memaparkan tema “Masuk Angin: Sains atau Gaib”, sebuah materi yang diangkat dari pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar UGM. Dalam pidato pengukuhan tersebut, beliau menjelaskan bahwa masuk angin bukanlah sekadar konsep medis, melainkan fenomena budaya yang melintasi ranah kesehatan dan kepercayaan tradisional. Menurut Prof. Atik, masyarakat Jawa mengenal tiga jenis masuk angin: ringan, berat, dan kasep (atau angin duduk). Kategori ringan ditandai oleh gejala seperti kembung, rasa panas, dan pegal-pegal. Sementara jenis berat muncul saat seseorang menunda istirahat atau makan, kemudian mengalami muntah atau diare. Jenis kasep adalah bentuk paling serius, di mana gejalanya bisa muncul tiba-tiba dan terkait dengan rasa nyeri di dada.
Dalam pemaparannya di FISIP USU, Prof. Atik juga mengulas cara pengobatan tradisional terkait fenomena ini, seperti kerokan menggunakan koin dan minyak gosok, yang menurutnya memainkan peran penting dalam tradisi budaya. Dianggap sebagai metode penyembuhan komunal di kalangan masyarakat Jawa, kerokan kadang dilakukan secara kolektif dan dianggap efektif dalam menyeimbangkan suhu tubuh dan memperlancar peredaran darah.

Para mahasiswa antusias menggali lebih jauh bagaimana pendekatan antropologi kesehatan dapat digunakan untuk membaca fenomena budaya seperti masuk angin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mulai dari aspek metodologis, perbedaan perspektif medis dan budaya, hingga bagaimana praktik seperti kerokan membentuk identitas dan pengalaman kesehatan suatu komunitas. Ini memperlihatkan ketertarikan mahasiswa untuk memahami relasi antara pengetahuan lokal, keyakinan tradisional, dan konstruksi sosial mengenai tubuh serta penyakit. Bagi banyak peserta, kesempatan berdialog langsung dengan Guru Besar UGM menjadi ruang belajar yang memperkaya cara pandang mereka terhadap kajian antropologi kesehatan secara lebih luas dan mendalam.
Kehadiran Prof. Atik di FISIP USU bukan hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga memperkuat jaringan penelitian antara kampus dan pakar nasional. Melalui kolaborasi ini, FISIP USU menegaskan misinya untuk menciptakan lingkungan akademik terbuka dan kritis terhadap isu budaya lokal. Program semacam ini sejalan dengan upaya institusi untuk memperkuat kurikulum, mendukung publikasi ilmiah, serta melahirkan lulusan yang mampu memahami kompleksitas sosial dan budaya dalam konteks kesehatan masyarakat.
Penulis: Jemima Frieda Lumbantobing