Tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) tengah mengikuti program pertukaran mahasiswa di INTI International University, Malaysia. Program ini merupakan bagian dari Student Mobility Programme yang diselenggarakan oleh INTI International University melalui kerja sama internasional dengan Universitas Sumatera Utara. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan pengalaman akademik dan lingkungan belajar di tingkat internasional.

Program ini dilaksanakan di kampus INTI International University yang berlokasi di Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia. Ketiga mahasiswa FISIP USU yang mengikuti program tersebut adalah Kenzie Alexander Kelana, Sophie Callista Wirawan, dan Celine Chandra dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Mereka menjalani program pertukaran ini selama satu semester dan telah berada di Malaysia sejak Januari 2026.

Selama mengikuti program, para mahasiswa menjalani berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik. Aktivitas akademik yang mereka ikuti meliputi perkuliahan berupa lecture, tutorial, dan practical, diskusi akademik, hingga pengerjaan proyek kelompok bersama mahasiswa internasional. Selain kegiatan perkuliahan, mereka juga terlibat dalam berbagai aktivitas di luar kelas, seperti Gotong Royong Bubur Lambuk bersama pengurus masjid setempat, Melaka Heritage Day Trip, serta Iftar Gathering bersama mahasiswa internasional.

Salah satu pengalaman akademik yang paling menarik bagi mereka adalah sistem kelas tutorial yang bersifat interaktif. Dalam sesi tersebut, mahasiswa didorong untuk aktif berdiskusi, menjawab pertanyaan, serta menyusun strategi dalam kelompok. Beberapa mata kuliah seperti Advertising dan Broadcasting menjadi pengalaman yang menonjol karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bertukar ide secara langsung dan mengembangkan pemikiran kritis.

Dalam proses adaptasi, para mahasiswa mengaku tidak mengalami kesulitan berarti karena lingkungan di Malaysia memiliki kemiripan dengan Indonesia, baik dari segi makanan, cuaca, maupun kehidupan sosial. Meski demikian, keberadaan mahasiswa dari berbagai negara di lingkungan kampus menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal perbedaan bahasa. Namun, situasi tersebut justru menjadi kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam lingkungan internasional.

Dari segi metode pembelajaran, mereka melihat adanya perbedaan struktur perkuliahan dibandingkan dengan di FISIP USU. Di INTI International University, setiap mata kuliah dibagi ke dalam tiga sesi dalam satu minggu, yaitu lecture, tutorial, dan practical. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih mendalam sekaligus mendorong mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi serta kerja kelompok.

Selain pengalaman akademik, interaksi lintas budaya juga menjadi bagian penting dari program ini. Pertukaran budaya lebih banyak terjadi melalui interaksi sehari-hari dengan mahasiswa dari berbagai negara. Mereka saling berbagi cerita mengenai kebiasaan, makanan, serta kehidupan di negara masing-masing, sehingga memperkaya pemahaman tentang keberagaman budaya.

Bagi ketiga mahasiswa tersebut, salah satu pengalaman paling berkesan adalah merayakan momen kebersamaan seperti Iftar dan Hari Raya bersama teman-teman internasional. Mengikuti potluck Iftar untuk pertama kalinya serta merasakan suasana perayaan di lingkungan yang multikultural menjadi pengalaman yang sangat berharga selama menjalani program pertukaran ini.

Melalui program ini, mereka berharap dapat mengembangkan kemandirian, kemampuan komunikasi, serta memperluas wawasan global. Setelah kembali ke FISIP USU, mereka juga berencana untuk membagikan pengalaman tersebut kepada mahasiswa lain agar semakin banyak mahasiswa yang terdorong untuk mengikuti program internasional serupa.

Mereka pun berpesan kepada mahasiswa FISIP USU yang tertarik mengikuti program pertukaran agar tidak ragu untuk mencoba. Menurut mereka, program seperti ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, baik secara akademik maupun pengembangan diri, serta dapat membuka perspektif baru dalam melihat dunia.

Penulis:
Jemima Frieda Lumbantobing