Studi pembangunan kontemporer sering kali mengandalkan formula tunggal yang linier dalam melihat kemajuan suatu negara, salah satunya melalui pandangan kelembagaan (institusionalisme) historis dari Daron Acemoglu dan James A. Robinson. Pandangan ini membagi institusi secara kaku menjadi institusi inklusif yang membawa kemakmuran dan institusi ekstraktif yang memicu kegagalan negara. Namun, realitas empiris di kawasan Asia Tenggara menunjukkan bahwa pembangunan jauh lebih kompleks, hibrida, dan sangat politis. Fenomena pembajakan institusi oleh oligarki di Filipina, bertahannya kapasitas birokrasi teknokratis di tengah kudeta Thailand, hingga agensi visioner di Singapura membuktikan adanya titik buta (blind spots) dari teori tersebut.
Urgensi dari pelaksanaan kuliah umum ini adalah untuk memberikan catatan kritis dan dekonstruksi konseptual kepada mahasiswa pascasarjana mengenai batasan teori Acemoglu. Kegiatan ini penting agar civitas akademika mampu melihat institusi bukan sebagai cetak biru yang kaku, melainkan sebagai wadah dinamis yang dipengaruhi oleh faktor agensi (agency), kapasitas negara (state capacity), kesepakatan politik (political settlement), dan geopolitik global. Selaras dengan hal tersebut, Universitas Sumatera Utara (USU) terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran demi membekali mahasiswa dengan kerangka analisis baru bertaraf internasional.
