> Berita > Kisah Wilmar Fatiha Ahmad: Mahasiswa Antropologi yang Menjelajah Restorasi Hutan dan Habitat Orangutan di YOSL-OIC
Kisah Wilmar Fatiha Ahmad: Mahasiswa Antropologi yang Menjelajah Restorasi Hutan dan Habitat Orangutan di YOSL-OIC
Dipublikasi Pada
09 Oktober 2026
Dipublikasi Oleh
Maya Ari Setya Ningsih, S.Sos
Thumbnail Kisah Wilmar Fatiha Ahmad: Mahasiswa Antropologi yang Menjelajah Restorasi Hutan dan Habitat Orangutan di YOSL-OIC
Pengalaman Magang Wilmar Fatiha Ahmad, mahasiswa S1 Antropologi, sebagai "teman magang" internasional di YOSL-OIC. Kegiatan mencakup pemetaan habitat orangutan Sumatra menggunakan GIS dan MaxEnt, serta pengalaman langsung restorasi hutan dan pemantauan satwa di lapangan.
International Internship adalah lembaga penyelenggara program magang dan studi intensif berbasis di Australia bagi mahasiswa dari berbagai bidang studi di Indonesia. Program ini membuka kesepakatan bagi mahasiswa Indonesia melalui kampus mitra untuk menjadi “teman magang” bagi mahasiswa Australia yang mengikuti program tersebut. Selanjutnya, lembaga mengarahkan para mahasiswa untuk melaksanakan program magang di berbagai organisasi atau instansi di Indonesia.
Saya berkesempatan menjadi salah satu “teman magang” dan ditempatkan di Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Sumatera Utara, Indonesia. Fokus utama magang kami adalah pemetaan hutan hujan berbasis GIS untuk menilai kesesuaian habitat orangutan. Selain dapat menjalin hubungan dengan mahasiswa internasional, pengalaman magang ini jauh melampaui ekspektasi saya. Saya memperoleh pengetahuan yang luas mengenai Pongo abelii (Orangutan Sumatra) yang terancam punah termasuk persebaran dan penyebab keterancamannya sekaligus mendapatkan pengalaman praktik langsung dalam upaya restorasi intensif.
Program magang kami mencakup kegiatan lapangan maupun pekerjaan kantor. Kegiatan lapangan yang menjadi bagian paling menarik dan berkesan adalah pengalaman imersif berkemah selama tiga hari di kawasan Selamanya Hutan. Di sana, kami mendalami praktik restorasi dan regenerasi hutan, penggunaan drone termal untuk pengamatan satwa liar, pemantauan pergerakan satwa dengan camera trap, serta pemetaan lokasi sarang orangutan menggunakan GPS.
Kami juga mengunjungi lokasi restorasi kedua, Cinta Rajah III, untuk mengamati penerapan praktik fenologi dan pembibitan tanaman dalam memantau serta meningkatkan regenerasi hutan. Data hasil pelacakan GPS tersebut kemudian kami gunakan untuk pemetaan akhir habitat orangutan menggunakan perangkat lunak ArcMap 10.8 dan ArcGIS Pro, serta analisis MaxEnt untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesesuaian habitat bagi rehabilitasi orangutan.