FGD Persiapan Pembukaan Magister Antropologi FISIP USU, Selasa (7/11) sungguh membanggakan. Terlebih dalam diskusi ini dihadiri oleh Kapolda Sumut, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi, Dekan FISIP USU, Dr. Harta Ridho, Wakil Ketua Komisi A DPRD Langkat, Sandrak Lugo Manurung, dan peserta lainnya para praktisi dari instansi pemerintah, LSM, Konsultan Sosial dan Media.

Kapolda dalam paparannya sebagai salah satu pemantik diskusi berkisah tentang kedekatannya dengan Antropologi. Ia memperoleh pembelajaran tentang Antropologi ketika menjadi mahasiswa dan kemudian asisten Prof Parsudi Suparlan guru besar Antropologi UI yang juga mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian. Beliau mengekspresikan kekagumannya dengan Parsudi dan pendekatan antropologi nya yang menurutnya berkontribusi membersihkan kepolisian dan mencetak perwira polisi yang tangguh.

Ia berkisah tentang penerapan pendekatan kebudayaan yang menjadi lapangan Antropologi. "Saat kegiatan nasional F1H20 di Danau Toba ada permasalahan terkait dengan pemanfaatan lahan. Dengan pihak hula-hula mendatangi pemilik lahan dan memberikan penjelasan, permasalahan yang awalnya rumit dapat terselesaikan dengan baik", jelasnya.

Ia juga menjelaskan fenomena perkotaan yang ditemukannya berdasarkan pemahamannya mengenai Antropologi. "Saya berjalan di trotoar dari rumah dinas ke Mesjid Agung. Di trotoar ada pohon besar dan ditempatkan lagi berbagai macam lainnya yang mempersempit ruang pejalan kaki. Lalu pohon besar ini dipangkas dengan alasan takut tumbang. Saya cari tahu perawatan pohon ini berada di tanggung jawab siapa, ternyata bukan dinas pertamanan tetapi dinas PUPR", ucapnya sambil menggambarkan hubungannya dengan perlakuan terhadap pohon tersebut.

Di akhir beliau mengapresiasi rencana pembukaan Magister Antropologi yang akan memperkuat pendekatan kebudayaan dalam menyelesaikan permasalahan. "Jika setiap permasalahan diselesaikan secara hukum maka penjara akan penuh", ujarnya sambil memberikan saran untuk prodi magister Antropologi nantinya dengan kata kunci : "Mulailah dengan memanusiakan manusia". Ia mencontohkan penggunaan prinsip tersebut, dengan mencoba mengubah tagline : " Ini Medan Bung" yang sering dimaknai negatif dengan tagline dengan spirit yang lebih positif: "Ini Baru Medan".

Peserta lainnya banyak memberikan testimoni atas kebermanfaatan Antropologi dalam kerja-kerja mereka sebagai praktisi maupun kontribusi alumni Antropologi dalam pencapaian tujuan lembaga. Juga berbagai saran dan harapan yang menjadi masukan yang sangat berharga bagi panitia dalam mewujudkan pembentukan prodi magister Antropologi dan merumuskan visi hingga penyusunan kurikulum.